Selasa, 14 April 2015

KERINGAT BERLEBIH DI TANGAN

Banyak orang yang mengalami keringat berlebih pada telapak tangan dan menganggapnya bahwa itu salah satu gejala penyakit jantung.  Padahal keringat berlebih dapat disebabkan berbagai faktor. Salah satunya yaitu kegiatan yang berlebihan atau akibat dari konsumsi obat kimia dapat menyebabkan kelenjar keringat bermasalah.
Dalam bidang kedokteran keringat berlebih disebut dengan hiperhidrosis. Hiperhidrosis adalah sekresi (pengeluaran) keringat dalam jumlah yang lebih besar dari yang dibutuhkan untuk mendinginkan tubuh.  Biasanya kelebihan keringat tersebut terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, dan ketiak. Kecemasan, rasa malu serta gangguan aktivitas sehari-hari dapat disebabkan oleh hiperhidrosis.
Situasi stres seperti ujian, wawancara pekerjaan, atau peristiwa penting lainnya justru akan memperburuk keadaan ini. Hiperhidrosis sendiri terbagi atas 3 yaitu :
• Hiperhidrosis fokal primer
Seseorang mengeluarkan keringat berlebih hanya diarea tubuh tertentu misalnya kepala, ketiak, wajah, telapak tangan dan telapak kaki.
• Hiperhidrosis Idiopatik Generalisasi
Seseorang memiliki kecendrungan mengeluarkan keringat berlebih diseluruh tubuhnya.
• Hiperhidrosis Sekunder Generalisasi
Seseorang mengeluarkan keringat berlebih akibat reaksi obat kimia seperti obat antihipertensi dan antidepresi atau penyakit tertentu seperti penyakit jantung, mudah emosi, berdebar-debar, menopause, diabetes melitus dan stroke.
Keringat berlebih juga melibatkan area yang luas ditubuh bisa ke seluruh tubuh. Kondisi keringat berlebih ini bisa muncul kapan saja dan bahkan dapat muncul ketika tertidur lelap.
Hubungan Hiperhidrosis dan Penyakit Jantung
Hiperhidrosis biasanya tidak berkaitan dengan penyakit jantung seperti yang sering dipikirkan banyak orang. Telapak tangan atau kaki yang sering berkeringat belum tentu merupakan tanda gangguan jantung.
Hiperhidrosis biasanya disebabkan stimulasi emosi dan suhu. Jadi, keringat yang berlebihan hanya di kedua telapak tangan dan di kedua telapak kaki, tanpa disertai keluhan gejala-gejala gangguan jantung atau gejala sistematik jantung lainnya, kemungkinan besar hiperhidrosis tersebut hanya disebabkan oleh rasa cemas saja.
Maka sebelum menyimpulkan, kita dapat mencari informasi atau konsultasikan ke dokter terlebih dahulu apakah gejala keringat berlebih ini pertanda terkena penyakit jantung atau tidak.
Cara Menanggulangi Hiperhidrosis
Perawatan yang biasanya direkomendasikan untuk kondisi hiperhidrosis, antara lain:
1. Obat antikolinergik
Seseorang mungkin diresepkan obat antikolinergik seperti Glycopyrrolate pada kasus hiperhidrosis secara umum. Biasanya, setelah menggunakan obat selama sekitar dua minggu, tanda dan gejala membaik.
Namun, obat ini bisa memiliki berbagai efek samping karena asetilkolin bekerja pada beberapa struktur dalam tubuh, bukan hanya kelenjar keringat. Beberapa tanda dan gejala efek samping dari obat antikolinergik, antara lain: penglihatan kabur, sembelit, kehilangan selera makan, retensi urin, mulut kering, dan pusing.
2. Antiperspiran
Untuk mencapai hasil terbaik, antiperspiran harus dipakai di malam hari untuk daerah yang paling rentan terhadap keringat. Orang harus mencuci obat di pagi hari untuk mencegah iritasi karena antiperspiran dapat menyebabkan kulit merah, bengkak dan gatal.
Antiperspirant selalu diutamakan untuk menanggulangi keringat berlebih bagi beberapa orang diseputar dunia dan terbukti sangat efektif. Bahan yang sangat efektif adalah Alluminium Chlorida (20-25%) biasanya dipakai pada malam hari 2-3 kali/hari dalam kadar alkohol 70-90%.
3. Botulinum toksin
Suntikan botulinum toksin efektif untuk mengobati hiperhidrosis dengan memblokir saraf yang memicu kelenjar keringat.
4. Iontophoresis
Alat bertenaga baterai akan digunakan dalam prosedur ini saat tubuh pasien direndam di dalam air, kemudian diberikan arus listrik tingkat rendah untuk tangan, kaki, atau ketiak. Kelenjar keringat sementara dapat diblokir pada prosedur ini. Iontophoresis biasanya aman dan dapat dilakukan di rumah.
5. Bedah
Operasi bisa menjadi pilihan dalam beberapa kasus langka. Melepaskan kelenjar keringat di ketiak dapat membantu dalam kasus keringat berlebihan yang hanya terjadi di daerah tersebut. Memotong saraf yang membawa pesan dari saraf simpatis ke kelenjar keringat adalah prosedur yang berbeda. Operasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan prosedur yang dikenal sebagai endoscopic thoracic sympathectomy.

KERINGAT BERLEBIH

Sinonim
Nama lain untuk hiperhidrosis  antara lain: keringat berlebihan, hyperhidrosis, hyperidrosis, polyhidrosis, excessive sweating.

Penyebab (Etiologi)

Secara umum, penyebab hiperhidrosis dapat tidak diketahui penyebabnya (idiopathic), merupakan kondisi sekunder terhadap penyakit lainnya  gangguan metabolik, demam, penggunaan obat-obat tertentu,
Berbagai referensi juga menyebutkan berbagai penyebab hiperhidrosis antara lain: makanan pedas, minuman (panas/berkafein/beralkohol), overdosis obat (morfin, aspirin), menopause, TBC, malaria, serangan jantung, penyakit tertentu (thyrotoxicosis, hyperthyroidism, hypoglycemia, leukaemia, lymphoma, pheochromocytoma). Spinal cord injury (cedera tulang belakang). Ketidaknormalan sistem saraf yang mengendalikan keringat juga merupakan penyebab hiperhidrosis (Anurogo D, 2008).
Generalized hyperhidrosis dapat merupakan kondisi sekunder dari berbagai kondisi berikut ini:
1.    Penyakit neurologis (berhubungan dengan saraf) atau neoplastik (berhubungan dengan neoplasma)
2.    Gangguan atau proses metabolik (misalnya: thyrotoxicosis, diabetes mellitus, hypoglycemia, gout, pheochromocytoma, menopause)
3.    Demam (febrile illnesses)
4.    Penggunaan obat-obatan
Beberapa obat yang dapat menimbulkan hiperhidrosis misalnya: propranolol, physostigmine, pilocarpine, tricyclic antidepressants, dan serotonin reuptake inhibitors. Khusus untuk efavirenz dapat mencetuskan keringat berlebihan pada malam hari (excessive nocturnal sweating).
5.    Konsumsi alkohol dalam waktu yang lama (chronic alcoholism)
6.    Hodgkin disease atau tuberculosis (pada nocturnal hyperhidrosis).
Untuk localized hyperhidrosis, dapat disebabkan oleh berbagai kondisi berikut ini:
1.    Rangsang pengecapan atau gustatory (berhubungan dengan Frey syndrome, encephalitis, syringomyelia, diabetic neuropathies, herpes zoster parotitis, dan abses parotid)
2.    Eccrine nevus
3.    Eccrine angiomatous hamartoma
4.    Blue rubber-bleb nevus
5.    Tumor glomus
6.    Sindrom POEMS, yaitu:
a.    Peripheral neuropathy,
b.    Organomegaly (pembesaran organ tubuh),
c.    Endocrinopathy (penyakit hormonal),
d.    Monoclonal plasma-proliferative disorder,
e.    Skin changes (perubahan kulit)
7.    Sensasi kaki terbakar (burning feet syndrome)
8.    Pachydermoperiostosis
9.    Pretibial myxedema
Keadaan localized unilateral or segmental hyperhidrosis merupakan kondisi yang jarang dijumpai dan belum diketahui penyebabnya. Kondisi ini biasanya mengenai lengan bawah atau dahi.
Patofisiologi (Proses Perjalanan Penyakit)
Menurut Schwartz RA, et.al., (2009), ada tiga bentuk hyperhidrosis:
1. Dipicu oleh kondisi emosional (emotionally induced)
2. Setempat (localized)
3. Umum (generalized)
Generalized hyperhidrosis dapat disebabkan oleh disregulasi otonom, atau merupakan keadaan sekunder dari gangguan metabolik, febrile illness, atau keganasan.
Bentuk hiperhidrosis setempat (localized hyperhidrosis) merupakan hasil atau akibat dari gangguan yang diikuti regenerasi abnormal saraf-saraf simpatik atau ketidaknormalan setempat di sejumlah atau pada penyebaran kelenjar ekrin (exocrine glands), atau dapat juga berhubungan dengan ketidaknormalan lainnya (biasanya berhubungan dengan pembuluh darah/vaskuler).
Intinya, hiperhidrosis merupakan suatu gangguan kelenjar keringat ekrin yang berhubungan dengan overaktivitas simpatik. Ini bukanlah gangguan generalisata yang melibatkan vascular endothelium.
Manifestasi Klinis
Keringat berlebihan pada (telapak) tangan, ketiak, daerah kemaluan, (telapak) kaki; dapat dipicu oleh stres, emosi, olahraga. Sering ganti pakaian.
Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis hiperhidrosis dan menyingkirkan berbagai diagnosis banding adalah sebagai berikut ini:
1. Tes fungsi tiroid, untuk menyatakan kemungkinan hipertiroidisme atau tirotoksikosis.
2. Kadar glukosa darah, untuk menyatakan kemungkinan  diabetes mellitus atau hipoglikemia.
3. Pemeriksaan katekolamin urin, untuk menyatakan kemungkinan pheochromocytoma.
4. Kadar asam urat, untuk menyatakan kemungkinan gout.
5. Tes purified protein derivative (PPD) sebagai screening untuk tuberkulosis.
6. Rontgen dada (chest radiography), untuk menyingkirkan kemungkinan tuberkulosis atau penyebab neoplastik.
Penatalaksanaan
Pada prinsipnya ada lima alternatif penatalaksanaan kasus hiperhidrosis, antara lain:
1.    Agen topikal
2.    Agen sistemik
3.    Iontophoresis
4.    Suntikan Botox (Botulinum toxin injections)
5.    Pembedahan
Agen Topikal
Menurut Sato K, et.al. (1989), agen topikal termasuk topical anticholinergics, boric acid, 2-5% tannic acid solutions, resorcinol, potassium permanganate, formaldehyde (yang dapat menyebabkan sensitisasi), glutaraldehyde, dan methenamine.
Drysol (20% aluminum chloride hexahydrate dalam absolute anhydrous ethyl alcohol) umum digunakan sebagai lini pertama agen topikal, dipakai pada malam hari pada kulit yang kering.
Untuk meminimalkan iritasi, sisa obat sebaiknya dicuci saat pasien bangun tidur, lalu daerah tersebut dinetralkan dengan aplikasi topikal baking soda.
Agen Sistemik
Menurut Klaber M, Catterall M. (2000), agen sistemik di antaranya adalah antikolinergik, sedatives dan tranquilizers, indomethacin, dan penghambat saluran kalsium (calcium channel blockers).
Antikolinergik seperti propantheline bromide, glycopyrrolate, oxybutynin, dan benztropine efektif karena neurotransmiter preglandular untuk sekresi keringat adalah asetilkolin (meskipun sistem saraf simpatik merangsang kerja (meng-innervate) kelenjar keringat ekrin.
Penggunaan antikolinergik mungkin tidak begitu menarik karena efek sampingnya seperti: refleks dilatasi pupil (mydriasis), penglihatan kabur (blurry vision), mulut dan mata terasa kering, sulit kencing, dan konstipasi.
Agen sistemik lainnya seperti sedatives dan tranquilizers, indomethacin, dan calcium channel blockers, bermanfaat untuk mengobati palmoplantar hyperhidrosis, yaitu hiperhidrosis di daerah telapak tangan dan telapak kaki.
Iontophoresis
Untuk kasus palmoplantar hyperhidrosis, dosis harian untuk setiap telapak tangan atau telapak kaki selama 30 menit adalah 15-20 mA dengan tap water iontophoresis. Menurut Abell E dan Morgan K (1974), terapi dengan anticholinergic iontophoresis lebih efektif daripada  dengan tap water iontophoresis.
Suntikan Botox
Menurut Fujita M, et.al. (2001), suntikan Botulinum toxin efektif karena efek antikolinergiknya pada neuromuscular junction dan pada postganglionic sympathetic cholinergic nerves di kelenjar keringat.
Pembedahan
Tindakan pembedahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hiperhidrosis antara lain: sympathectomy, eksisi daerah yang mengalami hiperhdrosis, penggunaan laser 1064-nm Nd-YAG, dan liposuction subkutan.
Sympathectomy merupakan pilihan terakhir di dalam penatalaksanaan hiperhidrosis karena melibatkan tindakan perusakan (surgical destruction) ganglia yang bertanggung jawab atas terjadinya hiperhidrosis (Hsu CP, et.al., 2001).
Ganglia thoracic kedua (T2) dan ketiga (T3) bertanggung jawab untuk palmar hyperhidrosis. Ganglia thoracic keempat (T4) mengendalikan axillary hyperhidrosis. Sedangkan ganglia thoracic pertama (T1) mengontrol facial hyperhidrosis.
Dua pendekatan pembedahan yang dilakukan: pendekatan terbuka dan endoskopik. Pendekatan endoskopik lebih disukai karena proses perbaikan dari komplikasi, surgical scars, dan waktu pembedahan. Sehingga jelaslah bahwa endoscopic thoracic sympathectomy merupakan terapi yang efektif untuk hiperhidrosis.
Diagnosis Banding
Berbagai penyakit yang perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding hiperhidrosis antara lain:
1.    Burning feet syndrome
2.    Blue Rubber Bleb Nevus Syndrome
3.    Demam (febrile illnesses)
4.    Diabetes mellitus
5.    Eccrine angiomatous hamartoma
6.    Eccrine nevus
7.    Gout
8.    Hipoglikemia
9.    Hodgkin disease
10.    Menopause
11.    Pachydermoperiostosis
12.    Penggunaan alkohol dalam waktu lama (chronic alcoholism)
13.    Penggunaan obat-obatan (misalnya: propranolol, physostigmine, pilocarpine, tricyclic antidepressants, venlafaxine)
14.    Penyakit neoplastik
15.    Penyakit neurologis
16.    Pheochromocytoma
17.    POEMS Syndrome
18.    Pretibial Myxedema
19.    Riley-Day syndrome (familial dysautonomia)
20.    TBC (Tuberculosis)
21.    Tirotoksikosis
22.    Tumor glomus
Komplikasi
Beberapa kasus hiperhidrosis yang berat dapat mengurangi kualitas hidup pasien, misalnya menimbulkan penderitaan psikologis yang mendalam (great emotional distress), malu berinteraksi dengan masyarakat (social embarrassment), dan ketidakmampuan yang berhubungan dengan pekerjaan.
Berkeringatnya telapak kaki dan tangan (palmoplantar sweating) dapat menyebabkan iritasi pada kulit yang terkena, yang pada akhirnya memicu gerakan menggosok-gosok.
Hiperhidrosis di ketiak menimbulkan bau tak sedap, menimbulkan rasa malu.
Pencegahan
Bersihkan kulit setiap malam dan pagi. Hindari pakaian dari bahan lycra dan nylon. Lebih baik gunakan emollient (penyejuk, pelembut kulit) dan moisturizer (pelembab kulit) daripada sabun. Pakailah warna yang tidak menampakkan keringat, misal: hitam, putih (Anurogo D, 2008).
Prognosis
Hiperhidrosis sukar diterapi secara efektif. Meskipun demikian, dengan berbagai modalitas terapi yang tersedia sekarang, pasien memiliki banyak pilihan sehingga prognosisnya menjadi lebih baik.

NYERI TULANG BELAKANG

Tulang belakang (spine) merupakan rongga yang terdiri atas 24 tulang (vertebrae) yang tersusun satu sama lain. Di antara tulang-tulang itu terdapat cakram yang melindungi tulang-tulang tersebut dari sentakan.
Cakram-cakram tersebut terbuat dari selubung kuat tulang rawan dengan bahan kenyal lembut di tengahnya. Cakram meredam sentakan di antara vertebra sambil membiarkannya bergerak.
Tulang belakang ditopang oleh otot dan ligamen. Otot abdominal (perut) membantu punggung untuk menekuk dan mengendalikan gerakan yang memelintir. Bersandar ke depan juga menggunakan otot pinggang, paha dan punggung.
Sumsum tulang belakang “membawa” saraf dari otak ke seluruh bagian tubuh dan mengalir ke tengah-tengah vertebrae. Kerusakan sumsum tulang belakang dapat menyebabkan kelumpuhan salah satu bagian tubuh.
Sakit Punggung
Sakit punggung merupakan suatu gejala dan bukan penyakit. Yang termasuk sakit punggung adalah rasa tidak nyaman yang ringan hingga nyeri menyakitkan yang mengakibatkan cacat. Perbedaan dalam tinggi, berat, dan kekuatan punggung mengakibatkan sebagian orang merasa lebih peka terhadap nyeri punggung dibandingkan lainnya.
Penyebab sakit punggung yang paling umum adalah keregangan otot atau ligamen atau postur tubuh yang tidak tepat. Hal tersebut selanjutnya mengakibatkan kelebihan beban sehingga perut yang berat mendorong tulang belakang ke muka. Aktivitas berat seperti mengangkat beban berat secara tidak tepat atau tindakan sederhana seperti bersandar mungkin menyebabkan nyeri. Nyeri punggung dapat terjadi pada saat ceder. Penyakit pada bagian tubuh yang lain dapat pula menyebabkan nyeri punggung. Sebagian orang tidak pernah mengetahui penyebab nyeri.
Jagalah agar punggung tetap tegak dan perut rata
Kadang-kadang masalah tulang belakang menyebabkan tekanan pada saraf, sehingga timbul nyeri di berbagai bagian tubuh yang berbeda. Misalnya, tekanan pada saraf di daerah pinggang belakang menyebabkan nyeri, kesemutan, rasa gatal atau lemas pada tungkai dan kaki.
Penyebab nyeri punggung yang tidak umum adalah infeksi atau tumor tulang. Hal tersebut menyebabkan nyeri pada siang dan malam hari dan sering disertai demam dan sakit. Sakit punggung dapat merupakan gejala depresi atau stress.
Sakit punggung kronik biasanya disebabkan oleh ketegangan punggung, penyakit cakram atau osteoartritis tulang belakang (spondylosis). Orang yang terkena nyeri itu perlu merawat punggungnya serta menguatkan otot punggungnnya dengan berolah raga. Penderita sakit punggung yang berbadan gemuk perlu mengurangi berat badan.
Serangan Akut Sakit Punggung
Sakit punggung biasanya membaik setelah beristirahat beberapa hari, meskipun sakit kadang-kadang berlangsung lebih lama. Hanya satu dari sepuluh orang yang tetap merasakan nyeri setelah nyeri berlangsung dua bulan. Berusahalah untuk meredakan nyeri dan kembali pada kegiatan normal secepat mungkin.
Segeralah menghentikan kegiatan meskipun hampir selesai. Jika anda tidak mampu meluruskan tubuh, maka merangkaklah ke tempat tidur atau berbaring di lantai dan lepaskanlah beban dari punggung. Luruskanlah punggung dan tungkai perlahan-lahan, sakit punggung seringkali lebih terasa setelah mandi panas atau berendam dan tidur lelap.
Berbaringlah di tempat tidur hingga nyeri berkurang. Usahakanlah senyaman mungkin sewaktu berbaring atau pada posisi menyamping. Gunakanlah bantal untuk menahan tetapi jangan duduk beralas bantal.
Sebagian orang merasa lebih nyaman berbaring dengan kaki terangkat atau bantal di bawah lututnya. Lakukanlah hal itu hanya beberapa jam saja, karena kalau terlalu lama kaki justru menjadi kaku.
Gerakkanlah tubuh selama beberapa menit setiap jam, rentangkanlah tangan ke atas dan bawah atau tekuklah lutut. Menggerakkan jari kaki dan memutar pergelangan kaki dapat memperlancar aliran darah. Jika hal itu terasa terlalu nyeri, maka tariklah nafas perlahan-lahan. Lakukanlah hal itu sebelum bangkit dari tempat tidur. Bangunlah dari tempat tidur dengan merangkak, sehingga nyeri mungkin terasa berkurang dibandingkan dengan berjalan. Letakkan kursi dekat tempat tidur untuk membantu.
Terdapat ratusan “pengobatan” untuk sakit punggung, beberapa di antaranya cukup baik, sedangkan selebihnya hanya menghabiskan uang saja. Bila pengobatan itu membuat anda merasa lebih baik maka lanjutkanlah. Kadang-kadang sakit punggung membaik dengan sendirinya.
Jika nyeri membuat anda tidak dapat tidur makan minumlah obat penghilang rasa sakit seperti parasetamol (“panadol”) atau asam mefenamat (“ponstan”).
Bila telah bangkit dari tempat tidur, istirahatlah secara teratur dengan berbaring dan kaki diangkat. Hindarkanlah bergerak cepat, duduk dalam satu posisi terlalu lama atau segala gerakan yang menyebabkan nyeri.
Mintalah bantuan medis jika terdapat rasa kesemutan, lemas, pusing, mual, tidak mampu buang air kecil, nyeri berat yang berlangsung lebih dari tiga hari atau susah tidur. Orang yang kelebihan berat badan harus mengurangi berat badan untuk mengobati dan mencegah sakit punggung.
Latihan untuk menghilangkan nyeri punggung
Baringkanlah punggung anda dengan lutut tertekuk dan bukalah selebar mungkin. Letakkanlah lengan anda di atas paha luar tempat pertemuan pinggul.
Kendurkanlah otot punggung dan tekuklah ke bawah dengan lengan untuk merentangkan tulang belakang. Lakukanlah hal tersebut selama beberapa menit setiap hari. Latihan itu membantu membebaskan tekanan pada saraf dan cakram serta menempatkan kembali vertebra yang sedikit melenceng

NYERI BAHU

19 Penyebab Nyeri Punggung Atas dan Bahu (Tulang Belikat)

nyeri tulang belikat

Struktur tulang belikat cukup kompleks sehingga lebih rentan terhadap cedera.
Dalam keseharian, tangan selalu aktif sehingga menyebabkan ketegangan pada otot bahu.
Berbagai aktivitas seperti mengangkat belanjaan, menggendong anak, atau saat naik bis membuat tangan selalu sibuk.
Jadi, tangan serta bahu sering mendapat tekanan sehingga berpotensi menimbulkan nyeri pada tulang belikat.
Selain itu masih banyak faktor lain yang menjadi penyebab nyeri pungung (back pain) diantara tulang belikat.
Berikut adalah beberapa faktor yang menjadi penyebab back pain pada tulang belikat:
1. Cedera atau Trauma
Cedera struktural tulang atau ligamen bahu bisa menyebabkan nyeri punggung bagian atas yang parah.
2. Usia
Degenerasi cervical spine (tulang leher) karena penuaan atau penyakit tulang dapat menyebabkan nyeri tulang belikat.
3. Tendonitis
Tendonitis (terkadang akibat dari arthritis kronis) dapat menjadi penyebab nyeri bahu.
Peradangan tendon pada bahu menyebabkan nyeri punggung bagian atas.
4. Operasi
Pada kasus operasi kanker payudara, luka potong di payudara dan di ketiak dapat menyebabkan nyeri pada tulang belikat.
5. Radang Sendi (Arthritis)
Arthritis merupakan penyebab utama nyeri bahu, terutama pada orang tua.
Arthritis menyebabkan disfungsi pada sendi tulang rusuk belakang dan punggung bagian atas sehingga mengakibatkan nyeri sendi.
6. Osteoporosis
Osteoporosis menyebabkan kepadatan tulang berkurang sehingga tulang menjadi lemah. Kondisi ini dapat memicu nyeri pada bahu.
7. Kram Otot
Kram otot saat berolahraga atau saat melakukan pekerjaan sehari-hari bisa menyebabkan nyeri yang parah pada bahu atau tulang belikat.
8. Cedera Otot Rotator Cuff
Otot rotator cuff mengendalikan dan menstabilkan gerakan bahu. Bila otot ini cedera maka bisa menimbulkan nyeri punggung bagian atas terutama saat mengangkat lengan.
9. Stres yang Berlebihan
Stres fisik maupun psikologis yang berlebihan bisa memicu nyeri punggung atas.
Orang yang mengalami depresi biasanya akan selalu mengeluh tentang sakit punggung.
10. Penyakit Jantung
Rasa sakit karena diseksi aorta dapat menyebabkan nyeri bahu yang tajam.
Sakit pada bahu atau punggung bagian atas merupakan salah satu gejala serangan jantung, jadi tidak boleh diabaikan.
Angina pektoris umumnya dikenal sebagai nyeri dada yang dapat menyebabkan nyeri pada tulang belikat.
11. Gangguan Sistem Pencernaan
Gangguan pankreas, lambung, dan kerongkongan terkadang bisa menyebabkan nyeri punggung bagian atas.
Nyeri pada perut yang terjadi karena gangguan sistem pencernaan seperti pembentukan batu empedu, batu ginjal, atau tukak lambung, dapat menyebar hingga bahu.
Masalah pada hati (liver) dapat menimbulkan nyeri di bawah tulang belikat kanan.
12. Gangguan Pernapasan
Pneumonia, emboli paru, maupun pleurisy (radang selaput paru-paru) akibat infeksi pernapasan, dapat memicu nyeri punggung kronis dan nyeri pada bahu.
Masalah paru-paru menyebabkan bahu menjadi sakit saat bernapas dalam.
13. Sikap Tubuh yang Salah
Sikap tubuh yang salah saat tidur, duduk, bermain, bekerja, atau berdiri merupakan penyebab sederhana yang memicu terjadinya nyeri pada bahu.
14. Suhu yang Ekstrim Dingin
Paparan berlebihan terhadap suhu dingin yang ekstrim dapat menyebabkan nyeri punggung bagian atas.
15. Frozen Shoulder
Kondisi ini umum terjadi pada kelompok usia paruh baya. Frozen shoulder menyebabkan rasa sakit saat menggerakan bahu.
Melakukan latihan untuk mengatasi frozen shoulder di bawah bimbingan pelatih sangat penting untuk memudahkan gerakan bahu dan tangan.
16. Bursitis
Radang bursae otot bahu atau peradangan pada otot bahu menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit pada bahu.
17. Perubahan Gaya Hidup
Kesibukan serta jadwal pekerjaan yang padat membuat orang mengabaikan kesehatan mereka.
Hidup yang serba cepat bisa menyebabkan gangguan makan.
Kelangkaan waktu luang mempengaruhi rutinitas berolahraga.
Ketidakteraturan pola makan dan tidur, kurangnya diet yang seimbang, serta olah raga yang kurang tepat bisa menyebabkan nyeri punggung bagian atas dan bahu.
18. Diet Tidak Sehat
Kekurangan vitamin atau mengonsumsi terlalu banyak lemak saat makan, bisa melemahkan otot bahu sehingga menimbulkan nyeri pada otot bahu.
Kebiasaan buruk seperti mengonsumsi makanan olahan, junk food, atau makanan yang tidak bergizi akan mengakibatkan tubuh menjadi kekurangan nutrisi.
Kondisi tubuh yang kekurangan nutrisi akan membuat otot bahu melemah dan menimbulkan nyeri punggung bagian atas.
19. Perubahan Abnormal
Iritasi diafragma bisa menyebabkan nyeri bahu.
Pada kasus kehamilan ektopik, seorang wanita mungkin akan mengalami pada nyeri tulang belikat.[]

Minggu, 12 April 2015

PENYEBAB SCOLIOSIS


Skoliosis adalah kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang, dimana terjadi pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan, atau kelainan tulang berbentuk huruf S. Ada banyak fakta yang menarik dan penting seputar scoliosis yang banyak orang belum mengetahuinya. Tahukah Anda?

Para penderita Skoliosis (kelainan tulang berbentuk S) memiliki bagian tubuh dengan panjang atau tinggi yang berbeda antara bagian kanan dan kirinya. Misal: alis mata kanan dan kiri yang tidak sama tingginya, lekuk bibir atas bagian kanan dan kiri yang tidak sama tingginya, lalu
telapak kaki kanan dan kiri yang tidak sama panjangnya sehingga kalau beli sepatu selalu terasa sempit salah satu kakinya, posisi wajah cenderung ke satu sisi, kedua telinga yang tidak sama tingginya, dan lain sebagainya. Tidak percaya? buktikan saja..^^

Tanda-tanda umum berikutnya bagi seseorang yang terkena skoliosis adalah tulang bahu yang berbeda, tulang belikat yang menonjol, lengkungan tulang belakang yang nyata, panggul yang miring, perbedaan ruang antara lengan dan tubuh.


Menurut “The National Scoliosis Foundation”, USA, skoliosis ditemukan pada 4,5% populasi umum, dan skoliosis lebih sering terjadi pada wanita daripada pria, dengan rasio 2:1. Tetapi masyarakat Indonesia banyak yang belum mengetahui dan mendapatkan informasi yang tepat mengenai skoliosis ini. Sebagian yang tahu pun kebanyakan lebih memilih pengobatan non medis, yang kemudian malah memperparah kondisi kesehatan penderita skoliosis (skolioser) tersebut.

Bahaya Skoliosis
Fakta penting lainnya, dalam tingkat yang masih ringan, skoliosis memang seakan-akan tidak menimbulkan masalah, tapi para penderita skoliosis tidak boleh menganggap enteng kelainan tulang ini. Jika skoliosis dibiarkan terlalu lama maka bisa berdampak pada organ bagian dalam, semisal paru-paru dan jantung. Tulang rusuk akan menekan paru-paru dan jantung penderita, sehingga penderita sering menderita sesak nafas (kesulitan bernafas) dan cepat lelah. Jantung juga akan mengalami kesulitan dalam memompa darah. Skoliosis yang sudah parah, yakni dengan derajat kebengkokan >90 derajat, bahkan berpotensi menyebabkan terjepitnya syaraf yang ada di sepanjang ruas tulang belakang sehingga terjadi kelumpuhan pada penderita. Sayangnya, hanya sedikit orang yang tahu skoliosis bisa berpengaruh terhadap organ jantung, paru-paru, bahkan sumsum tulang belakang. Kebanyakan penderita mengeluhkan masalah penampilan saja.

Periksa Sejak Dini
Orang tua juga bisa melakukan tes Adam Forward Bend untuk mengetahui sejak dini (balita) apakah putra-putrinya menderita skoliosis atau tidak. Tes ini hanya makan waktu 30 detik, tanpa anak perlu membuka baju, namun sangat efektif. Minta putra-putri Anda berdiri dengan lutut sejajar dan rapat, kemudian membungkukkan tubuh 90 derajat ke depan. Bila dia menderita skoliosis, akan tampak adanya penyimpangan bentuk tulang atau bagian punggung sehingga tampak tinggi sebelah.

Penyebab Skoliosis/Scoliosis
Sebanyak 75-85% kasus skoliosis tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan 15-25% kasus skoliosis lainnya penyebabnya bisa karena:
  1. Kelemahan yang semakin buruk pada otot rangka dalam mengendalikan gerak tubuh, semisal yang terjadi pada penderita penyakit polio (lumpuh yang disebabkan oleh virus.).
  2. Kelainan genetika atau terjadinya gangguan organ semasa janin di dalam rahim, misalnya karena infeksi virus semasa hamil.
  3. Berhubungan dengan usia tua, atau karena kekurangan mineral kalsium, seperti masalah osteopororis atau pengeroposan tulang.
  4. Dari hasil penelitian tentang hubungan sikap duduk terhadap terjadinya skoliosis pada anak (usia 10 – 12 tahun), menunjukkan bahwa memang ada hubungan antara sikap duduk salah siswa terhadap terjadinya skoliosis. Namun perlu diketahui, keadaan kursi/meja belajar pun dapat berpengaruh pada sikap duduk anak. Bila posisi tubuh yang salah ini berlangsung terus-menerus, anak berisiko mengalami kelainan postur dan gangguan pertumbuhan dengan gejala munculnya ketegangan otot yang ditandai rasa nyeri di leher, sakit pundak, atau anak sering menggerak-gerakkan leher (karena pegal) saat belajar. Kalau tidak segera dikoreksi, dalam waktu lama bisa terjadi perubahan pada fisik anak, seperti bahu menjadi tinggi sebelah, kepala miring, panggul tinggi sebelah atau adanya tonjolan di punggung (Triangto, 2008).


Penanganan Skoliosis
  1. Skoliosis ringan atau dengan derajat kebengkokan <20 derajat hanya perlu di observasi setiap satu tahun.
  2. Skoliosis sedang dengan kebengkokan antara 20 – 40 derajat, dianjurkan menggunakan alat bantu (Brace). Brace dipakai 23 jam setiap hari sampai terjadi kematangan tulang, atau pertumbuhan tulang sudah berhenti di sekitar usia 17 tahun. 
  3. Skoliosis berat dengan derajat kebengkokan >40 derajat dan semakin buruk, perlu dilakukan upaya pembedahan (operasi). Bila operasi dilakukan pada usia anak-anak, maka harus dilakukan mendekati masa kematangan tulang, yaitu usia 15-20 tahun. Bila terlalu awal, ada risiko pertumbuhan anak terhambat. Masa penyembuhan luka operasi kurang lebih 2 minggu, sedangkan penyatuan tulang belakang antara 6-9 bulan.

Olahraga yang Dianjurkan
Olahraga yang sangat dianjurkan untuk penderita skoliosis adalah berenang, dan streching yang mengarah berlawanan dengan kemiringan tulang belakang. Hal ini akan lebih baik jika dilakukan dengan pengawasan dari dokter orthopedi.






Scoliosis Struktural

Suatu kurvatura lateral spine yang irreversible dengan rotasi vertebra yang menetap. Scoliosis struktural tidak dapat dikoreksi dengan posisi atau usaha penderita sendiri.
Ada juga scoliosis yang diketahui penyebabnya, yaitu dikategorikan sebagai congenital scoliosis atau kelainan bawaan.

Scoliosis Non-Struktural / Fungsional Scoliosis / Postural Scoliosis

Suatu kurvatura lateral spine yang reversibel dan cenderung terpengaruh oleh posisi. Umumnya foward/side bending atau posisi supine/prone dapat mengoreksi scoliosis ini. sebagai contoh adalah scoliosis yang disebabkan adanya masalah dengan bagian tubuh lain. Misalnya kaki yang tidak sama panjang atau kejang otot dan radang otot.

Akibat Scoliosis:

  • Kelainan bentuk tubuh
  • Memperburuk penampilan
  • Gangguan keseimbangan otot:
    • Nyeri otot
    • Gampang lelah
    • Kelemahan otot
  • Penyakit Sendi
  • Gangguan Kapasitas Paru – Jantung
  • Memperpendek Umur

Rabu, 08 April 2015

GANGGUAN TUMBUH KEMBANG ANAK

BERBAGAI GANGGUAN MOTORIK. VESTIBULARIS  DAN SENSORIS YANG SERING MENYERTAI ANAK DENGAN KETERLAMBATAN BICARA
  1. GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”. Terlambat melompat dan terlambat mengayuh sepeda.
  2. GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik)
  3. GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  4. GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
    Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. MUDAH JATUH DARI TEMPAT TIDUR. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.


Gangguan Yang Sangat Mungkin sering Menyertai Gangguan Bicara

  1. GANGGUAN TIDUR MALAM : sulit tidur bolak-balik ujung ke ujung, tidur posisi “nungging”, berbicara,tertawa,berteriak, sering terbangun duduk saat tidur,mimpi buruk, “beradu gigi” atau bruxism
  2. AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  3. GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  4. EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme

Gangguan Perkembangan dan Perilaku Yang sering menyertai Gangguan Bicara
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • HAMPIR SEBAGIAN BESAR PENDERITA AUTISM PASTI AKAN MENGALAMI GANGGUAN KOMUNIKASI, GANGGUAN BICARA DAN BERBAHASA. TETAPI PENDERITA GANGGUAN BICARA BELUM TENTU MENGALAMI GANGGUAN AUTISM.

PROSES BICARA

Proses fisiologi bicara 
Menurut beberapa ahli komunikasi, bicara adalah kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan bahasa oral (mulut) yang membutuhkan kombinasi yang serasi dari sistem neuromuskular untuk mengeluarkan fonasi dan artikulasi suara. Proses bicara melibatkan beberapa sistem dan fungsi tubuh, melibatkan sistem pernapasan, pusat khusus pengatur bicara di otak dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang otak dan struktur artikulasi, resonansi dari mulut serta rongga hidung.
Terdapat 2 hal proses terjadinya bicara, yaitu proses sensoris dan motoris. Aspek sensoris meliputi pendengaran, penglihatan, dan rasa raba berfungsi untuk memahami apa yang didengar, dilihat dan dirasa. Aspek motorik yaitu mengatur laring, alat-alat untuk artikulasi, tindakan artikulasi dan laring yang bertanggung jawab untuk pengeluaran suara.
Pada hemisfer dominan otak atau sistem susunan saraf pusat terdapat pusat-pusat yang mengatur mekanisme berbahasa yakni dua pusat bahasa reseptif area 41 dan 42 (area wernick), merupakan pusat persepsi auditori-leksik yaitu mengurus pengenalan dan pengertian segala sesuatu yang berkaitan dengan bahasa lisan (verbal). Area 39 broadman  adalah pusat persepsi visuo-leksik yang mengurus pengenalan dan pengertian segala sesuatu yang bersangkutan dengan bahasa tulis. Sedangkan area Broca adalah pusat bahasa ekspresif. Pusat-pusat tersebut berhubungan satu sama lain melalui serabut asosiasi.
Saat mendengar pembicaraan maka getaran udara yang ditimbulkan akan masuk melalui lubang telinga luar kemudian menimbulkan getaran pada membran timpani. Dari sini rangsangan diteruskan oleh ketiga tulang kecil dalam telinga tengah ke telinga bagian dalam. Di telinga bagian dalam terdapat reseptor sensoris untuk pendengaran yang disebut Coclea. Saat gelombang suara mencapai coclea maka impuls ini diteruskan oleh saraf VIII ke area pendengaran primer di otak diteruskan ke area wernick. Kemudian jawaban diformulasikan dan disalurkan  dalam bentuk artikulasi, diteruskan ke area motorik di otak yang mengontrol gerakan bicara. Selanjutnya proses bicara dihasilkan oleh getaran vibrasi dari pita suara yang dibantu oleh aliran udara dari paru-paru, sedangkan bunyi dibentuk oleh gerakan bibir, lidah dan palatum (langit-langit). Jadi untuk proses bicara diperlukan koordinasi sistem saraf motoris dan sensoris dimana organ pendengaran sangat penting.

Proses reseptif – Proses dekode    
Segera saat rangsangan auditori diterima, formasi retikulum pada batang otak akan menyusun tonus untuk otak dan menentukan modalitas dan rangsang mana yang akan diterima otak. Rangsang tersebut ditangkap oleh talamus dan selanjutnya diteruskan ke area  korteks auditori pada girus Heschls, dimana sebagian besar signal yang diterima oleh girus ini berasal dari sisi telinga yang berlawanan.
Girus dan area asosiasi auditori akan memilah informasi bermakna yang masuk. Selanjutnya masukan linguistik yang sudah dikode, dikirim ke lobus temporal kiri untuk diproses. Sementara  masukan paralinguistik  berupa intonasi, tekanan, irama dan kecepatan masuk ke lobus temporal kanan. Analisa linguistik dilakukan pada area Wernicke di lobus temporal kiri. Girus angular dan supramarginal membantu proses integrasi informasi visual, auditori dan raba serta perwakilan linguistik. Proses dekode dimulai dengan dekode fonologi berupa penerimaan unit suara melalui telinga, dilanjutkan dengan dekode gramatika. Proses berakhir pada dekode semantik dengan pemahaman konsep atau ide yang disampaikan lewat pengkodean tersebut.

Proses ekspresif – Proses encode
Proses produksi berlokasi pada area yang sama pada otak. Struktur untuk pesan yang masuk ini diatur pada area Wernicke, pesan diteruskan melalui fasikulus arkuatum ke area Broca untuk penguraian dan koordinasi verbalisasi pesan tersebut. Signal kemudian melewati korteks motorik yang mengaktifkan otot-otot respirasi, fonasi, resonansi dan artikulasi. Ini merupakan proses aktif pemilihan lambang dan formulasi pesan. Proses enkode dimulai dengan enkode semantik yang dilanjutkan dengan enkode gramatika dan berakhir pada enkode fonologi. Keseluruhan proses enkode ini terjadi di otak/pusat pembicara.
Di antara proses dekode dan enkode terdapat proses transmisi, yaitu pemindahan atau penyampaian kode atau disebut kode bahasa. Transmisi ini terjadi antara mulut pembicara dan telinga pendengar. Proses decode-encode diatas disimpulkan sebagai proses komunikasi. Dalam proses perkembangan bahasa, kemampuan menggunakan bahasa reseptif dan ekspresif harus berkembang  dengan baik.